Manusia Diciptakan Berpasang-Pasangan

24 01 2010

Berkaitan dengan masalah bahasan di bagian ini ialah masalah pasangan. Kalau bicara masalah pasangan, tentu berkaitan dengan siapakah pendamping hidup kita nanti. Dan juga tidak lepas dari kata “jodoh”. Sudah menjadi kodrat dari Allah SWT yang telah menciptakan manusia atas dua jenis kelamin, yaitu pria dan wanita. Hal ini merupakan bukti dari kekuasaan dan kasih sayang-Nya, bahwa jenis yang satu memiliki ketertarikan, keinginan dan perasaan sayang terhadap jenis yang lain.

Dan Allah menciptakan manusia di muka bumi ini dengan beraneka ragam suku bangsa, bahasa, dan bentuk fisik. Tapi keragaman itu dimaksudkan bukan untuk menegaskan kelebihan yang satu dengan lainnya. Justru dengan adanya hal yang demikian itulah agar antar kelompok atau jenis dapat menjalin kesatuan dalam misi yang sama sebagai hamba dan khalifah-Nya. Itulah sebabnya ayat Al-Qur’an yang menegaskan hal ini di tutup dengan tujuan keragaman jenis manusia itu dengan sebuah kalimat yang indah –“lita’arafu” – agar saling kenal dan akrab.

Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 49)

Di lain ayat disebutkan pula:

“Maha Suci Tuhan yang Telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yaasiin36).

Allah memang menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini saling berpasang-pasangan. Ada langit ada bumi, ada siang ada malam, ada kanan ada kiri, ada atas ada bawah, dan ada laki-laki ada perempuan. Perjodohan manusia dengan manusia merupakan hal yang sangat terhormat dan disebut dengan NIKAH, karena disertai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan oleh agama. Dengan memenuhi syarat dan rukunnya itu manusia dapat mencapai kebahagiaan hidup berumah tangga yang sebaik-baiknya dan juga terhormat.

Allah SWT berfirman:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” (QS. An Nisaa’: 1)

Sejak seseorang beranjak usia remaja, munculnya perasaan rindu dan hasrat untuk hidup bersama dengan lawan jenisnya semakin mendesak dan menjadi pemikiran serta sumber kegiatan dalam kehidupan setiap manusia. Tidak selamanya dan semuanya mampu memenuhi hajat hidup pernikahan sebagaimana mestinya. Walaupun proses seperti ini bersifat individual, tapi pada dasarnya uiniversal. Karena adanya berbagai macam sebab dan keadaan yang menjadi penghalang untuk dapat sesegera mungkin mewujudkan sebuah rumah tangga yang diimpi-impikan. Misalnya saja: faktor ekonomi, fisik maupun sosial bahkan tidak jarang pula psikis dijadikan dan menjadi sebab tertundanya harapan menjadi sebuah kenyataan yang membahagiakan.

Menurut saya adapun hikmah dari perjodohan ialah untuk lebih mendekatkan pada arah pernikahan. Hal ini bukan berarti kembali pada jamannya Siti Nurbaya. Tapi kalau sudah memiliki calon pilihannya sendiri dan sudah mantap dengan pilihannya, ya silahkan untuk dilanjutkan dengan membangun komitmen untuk segera menikah.

Memang beralasan dan dapat diterima akal sehat bila seseorang menunda pernikahannya disebabkan faktor ekonomi sehingga merasa tidak mampu memenuhi nafkah dan kewajiban dalam keluarganya kelak. Adanya anggapan sosial yang berkaitan dengan faktor keturunan dan kemuliaan dapat menyebabkan seseorang yang menaruh hati tersebut menjadi terhalang dan musnahlah harapannya. Selain itu juga masalah psikis tidak dapat dihindarkan, sehingga ada yang nekad dan beranggapan bahwa membujang adalah jalan yang terbaik. Orang yang terlalu idealis dapat dipastikan akan mengalami kesukaran dalam menemukan dan menentukan jodohnya. Sebab menurutnya tidak ada seorang pun yang cocok dan sesuai dengan kriteria dan ukuran serta nilai-nilai yang selalu menjadi idamannya setiap siang maupun malam. Ada saja sesuatu yang kurang dan mengurangi hasratnya walaupun pembicaraan dan langkah-langkah pendekatan sudah di tempuh, namun terpaksa dibatalkan karena tidak sesuai dengan selera dan keinginan.

Salah satu tujuan pernikahan ialah untuk memperoleh keturunan dan kesucian diri, baik lahiriyah maupun batiniyah. Dan kesucian diri itu antara lain dengan menjaga dan memelihara kehormatan. Hal tersebut juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh keberuntungan dan kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. Selain itu tercapainya tujuan pernikahan juga sangat ditentukan oleh proses sebelum pernikahan itu dilaksanakan yaitu saat memilih jodoh.

Dalam memilih jodoh hendaklah yang “sekufu” artinya bahwa kondisi fisik, psikologis, sosial, ekonomi, pendidikan, kedewasaan dan pengalaman hidup beragama hendaklah ada kesetaraan atau kesejajaran. Meskipun disadari sepenuhnya bahwa untuk mendapatkan pasangan yang seperti itu bukanlah merupakan hal yang mudah, mengingat masih besarnya kesenjangan dan jurang pemisah yang ada dalam masyarakat. Dan sampai sekarang banyak yang masih menganggap bahwa harta adalah prioritas utama.

Allah SWT berfirman:

“Dan kawinkanlah siapa saja di antara kamu yang masih bujangan, baik pria maupun wanita, atau siapa saja di antara hamba sahayamu baik pria atau wanita yang sudah sepatutnya dikawinkan. Jika mereka dalam kemelaratan,         Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kemurahan-Nya. Allah Maha luas pemberiannya lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 32)

Ayat di atas merupakan anjuran agar faktor ekonomi tidak dijadikan alasan. Standardisasi perkawinan hanyalah kesucian, kepatuhan dan ketakwaan. Itulah nilai manusia Muslim. Alangkah pentingnya hidup dalam ikatan pernikahan dan kewajiban untuk membentuk keluarga bagi yang telah sampai pada saatnya dan cukup persyaratannya, serta menyadari bencana yang akan menimpa bila mengabaikannya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: